EU at Watershed: Shall EU redefine its position in response to ongoing wars?

Yulius P Hermawan

Eropa telah melalui berbagai ujian berat dalam sejarah hubungan antar bangsa di kawasan dan dunia. Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua merupakan puncak dari serentetan konflik yang telah menandai hubungan konfliktual antar bangsa-bangsa di Eropa. Perang-perang tersebut menyebabkan kehancuran besar di berbagai bidang termasuk ekonomi dan infrastruktur. Perang Dunia Kedua diperkirakan merenggut 35-60 Juta orang meninggal (Britanica). Proyeksi lain bahkan jumlahnya mencapai 75 juta orang (Lumenlearning). Angka-angka ini berkali lipat dari jumlah korban perang Perang Dunia Pertama yang merenggut sebanyak 8,5 juta nyawa (Britanica). Belum terhitung korban luka baik di kalangan sipil maupun tentara.

Trauma yang sangat mendalam akibat perang-perang tersebut telah mengantarkan suatu pembelajaran penting bagi integrasi regional melalui pembentukan Uni Eropa. Uni Eropa menjadi suatu model integrasi yang dapat membantu perwujudan perdamaian di kawasan. Uni Eropa juga menjadi aktor global penting yang aktif mempromosikan perdamaian di kawasan-kawasan lain.

Hari-hari ini negara-negara Eropa menghadapi ujian berat dalam membuktikan perannya sebagai aktor regional dan global untuk membawa damai di kawasan dan dunia.

Invasi Rusia atas Ukraina pada 24 Februari 2022 menjadi tantangan yang sulit hingga hari ini. UN Monitoring Mission in Ukraine memperkirakan bahwa hingga 24 Februari 2024, perang tersebut telah merenggut lebih dari 10 ribu nyawa, sementara korban luka hampir mencapai 20 ribu orang.  

Perang Rusia Ukraina juga membawa dampak ekonomi yang berat di Ukraina, Eropa dan Dunia secara luas (Papunen, EPRS, 2024). Inflasi di Eropa menjadi sangat tinggi karena naiknya komoditas energi dan pangan. Perang tersebut telah memperlambat proses pemulihan ekonomi pasca Pandemi Covid-19 di Eropa.

Uni Eropa telah berupaya untuk menghentikan ambisi Rusia untuk menguasai bagian timur Ukraina melalui sejumlah paket sanksi ekonomi atas Rusia. Uni Eropa juga telah menyediakan bantuan finansial ke Ukraina dengan jumlahnya mencapai €88 milyar yang mencakup bantuan finansial, ekonomi, diplomatik, kemanusiaan dan militer.

Selain perang Rusia-Ukraina, negara-negara Eropa juga harus menyaksikan perang Israel-Hamas di Gaza. Perang ini dimulai dengan invasi Israel ke Gaza pada awal Oktober 2023. Berbagai media internasional menyebut bahwa dalam waktu enam bulan saja, lebih dari 33 ribu orang telah meninggal dunia, sementara lebih dari 76 ribu orang lebih terluka karena perang tersebut. Ini menjadi bencana kemanusiaan terbesar di abad ke-21 ini.

Uni Eropa awalnya berada pada posisi yang sulit dalam merespon perang Israel Hamas tersebut. Bagi UE, Hamas adalah kelompok teroris yang berupaya untuk menghabisi kelompok Yahudi di Israel dan karenanya tidak akan ada perdamaian abadi kalau kelompok Hamas tidak diperangi. Posisi ini seolah menempatkan UE pada posisi mendukung Israel setidaknya dalam minggu-minggu pertama perang tersebut.

Posisi UE baru tampak lebih jelas di bulan Januari 2024 ketika Parlemen Eropa akhirnya menyepakati resolusi mendorong gencatan senjata permanen di antara pihak-pihak yang berperang, namun dengan syarat Hamas harus dibubarkan dan tawanan harus dibebaskan. Dalam voting di Parlemen Eropa, 312 anggota Parlemen mendukung resolusi tersebut, sementara 131 menentang dan 72 abstain.

“Hanya 9 dari 27 negara UE yang mengakui Palestina sebagai negara”

Menyikapi perang Israel-Hamas memang tampak tidak mudah bagi UE. Duapuluh tujuh anggota UE terbelah dalam merespon resolusi damai untuk Israel Hamas. Sebagian besar masih melihat one-state solution sebagai cara terbaik untuk mengakhiri perang Israel Palestina, termasuk Israel-Hamas. Hanya 9 dari 27 negara yang mau mengakui Palestina sebagai negara. Dengan posisi ini sebagian besar masih melihat peran sentral Israel dalam upaya menegakan kedaulatannya termasuk membangun perdamaian di tanah Palestina. Sikap ini berbeda dengan posisi banyak negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa yang melihat two-state solution sebagai cara yang tepat untuk mengakhiri konflik yang sudah berlangsung puluhan tahun sejak bangsa Yahudi mendeklarasikan negara Israel di tahun 1948.

Demikian pula halnya dengan bagaimana UE melihat perang Rusia-Ukraina. Rusia tetap dilihat sebagai saingan UE dan bahkan menjadi musuh yang harus diperangi. Sebagian ini mencerminkan warisan dari Perang Dingin (1946-1991) yang menempatkan Uni Soviet sebagai musuh utama blok Barat, di mana di dalamnya negara-negara Eropa Barat yang kini bergabung dalam UE menjadi pendukung utama. Rusia adalah Eropa yang lain, yang nilai-nilainya berseberangan dengan nilai-nilai yang dipromosikan UE.

Dalam konteks seperti ini, sulit mengharapkan UE akan menjadi penengah yang netral dalam mewujudkan perdamaian, baik di Eropa Timur maupun di Gaza.

Keberpihakan UE pada Ukraina dalam perang Rusia-Ukraina dan dukungannya pada Israel dalam perang Israel-Hamas tampaknya akan menyediakan restu bagi pihak-pihak yang didukungnya untuk melanjutkan perang atas nama stabilitas dan perdamaian.

Dengan melihat buntunya proses resolusi konflik saat ini, mungkin ini saatnya UE untuk melihat konflik-konflik yang sudah memakan korban ribuan orang tersebut dengan sudut pandang lain.

Tekanan UE pada Israel untuk mengakhiri perang dan mencari solusi lain dalam menghadapi Hamas akan menjadi awal baik bagi perdamaian di Gaza. Pengakuan bagi kedaulatan Palestina akan memperkuat awal yang baik tersebut dengan membuka ruang bagi Palestina untuk duduk setara di meja perundingan.

Apakah negara-negara UE akan semudah itu untuk meninggalkan cara pandang one-state solution dan mempercayai two-states solution di masa yang dekat ini? Sulit, tetapi bukan berarti tidak mungkin.

Redefinisi cara pandang UE terhadap Rusia sepertinya sama sulitnya untuk dilakukan pada saat ini. Kemenangan Vladimir Putin dalam pemilihan Presiden di bulan Maret 2024 lalu membuat negara-negara UE menjadi sangat pesimistis terhadap perubahan politik luar negeri Rusia termasuk masa depan perang Rusia-Ukraina. Kemenangan Putin tersebut memberikan legitimasi yang lebih kuat bagi Rusia untuk tetap menduduki wilayah Timur Ukraina tersebut (Thinkthank European Parliament, 2024).

UE memiliki peran potensial untuk menjadi salah satu aktor global yang dapat berkontribusi dalam membentuk arsitektur keamanan regional dan global. Namun, jika UE tetap mempertahankan cara pandang konvensional tentang konflik-konflik besar yang sedang berlangsung saat ini, tampaknya sulit kita mengharapkan suatu resolusi konflik dalam jangka waktu yang dekat ini.

Annastiina Papunen, EPRS (2024). “Economic impact of Russia’s war on Ukraine: European Council response”, https://www.europarl.europa.eu/RegData/etudes/BRIE/2024/757783/EPRS_BRI(2024)757783_EN.pdf

European Parliament (2024). “Israel-Hamas War: MEPs call for a permanent ceasefire under two conditions,” https://www.europarl.europa.eu/news/en/press-room/20240112IPR16776/israel-hamas-war-meps-call-for-a-permanent-ceasefire-under-two-conditions

Emanuele Bonini (2024).“EU: Two-state solution in the Middle East. But only 9 out of 27 recognize Palestine as a state.” https://www.eunews.it/en/2024/01/03/eu-two-state-solution-in-the-middle-east-but-only-9-out-of-27-recognize-palestine-as-a-state/

Think-tank European Parliament (2024). “Russia’s 2024 presidential election: What is at stake and what is not,” https://www.europarl.europa.eu/thinktank/en/document/EPRS_BRI(2024)760358